SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement Advertisement
Kebijakan
Home » Berita » “Demi Keberlanjutan” atau Menelantarkan? Ironi di Balik Pembatalan AirAsia

“Demi Keberlanjutan” atau Menelantarkan? Ironi di Balik Pembatalan AirAsia

Pesawat Air Asia dan Crew Cabin
Pesawat Air Asia dan Crew Cabin

HEADLINESIA.com, JAKARTA, 06 APRIL 2026 – Di balik ruang-ruang rapat ber-AC, kata “keberlanjutan” terdengar seperti misi suci. Namun, bagi ribuan penumpang PT AirAsia Indonesia Tbk. (CMPP), kata tersebut kini bermakna pahit: penerbangan yang hilang, jadwal yang berantakan, dan uang yang seolah “tersandera.”

Head of Government Relations and Communications Indonesia AirAsia, Eddy Krismeidi Soemawilaga, dengan tenang menyebut pembatalan massal ini sebagai upaya “menjaga keberlanjutan layanan.” Sebuah kalimat yang terdengar profesional, namun terasa sangat asing bagi para penumpang yang terdampar di terminal bandara.

Kontradiksi Janji Layanan vs Realitas Lapangan

Saat manajemen meminta maaf dan mengklaim langkah ini “perlu dilakukan” akibat lonjakan harga avtur dunia yang mencapai 70-80%, realitas di lapangan justru menunjukkan skenario yang jauh dari kata “melayani.”

Simak kisah akun @hereby_v di platform X. Penerbangan langsung Surabaya-Bangkok (SUB-DMK) miliknya tiba-tiba dibatalkan sepihak. Solusi “keberlanjutan” dari maskapai? Dialihkan ke penerbangan malam dengan transit di Kuala Lumpur. Sebuah perjalanan yang seharusnya efisien berubah menjadi maraton yang membuang waktu dan tenaga.

Ironi yang lebih tajam muncul dari pengakuan akun @sir_amirsyarif. Perjalanannya ke Malaysia dimajukan secara ekstrem dari jam 18.50 WIB menjadi 01.50 WIB dini hari. Yang paling mengejutkan, seorang staf maskapai di meja check-in justru membisikkan peringatan yang menghancurkan kredibilitas perusahaan: “Untuk sementara, hindari penerbangan kode QZ kalau mau pakai AirAsia.”

Roy Rening Ajukan PK Usai MK ‘Hapus’ Pasal Perintangan Penyidikan Korupsi

Jika staf internal sendiri memperingatkan penumpang untuk menghindari armada mereka, lantas “layanan” seperti apa yang sebenarnya sedang dijaga keberlanjutannya?

Penumpang Bantalan Empuk untuk Fluktuasi Harga?

Data memang menunjukkan angka yang menakutkan bagi industri penerbangan. Di Bandara Soekarno-Hatta (CGK), harga avtur domestik melonjak drastis dari Rp13.656,51 pada Maret menjadi Rp23.551,08 per liter di bulan April—kenaikan maut sebesar 72,45% dalam waktu singkat.

Namun, disonansi muncul di sini: Jika bisnis sedang tertekan, mengapa konsumen yang harus menanggung beban psikologis dan fisik paling berat? Penumpang membeli tiket sebagai bentuk kontrak kepercayaan. Saat harga naik, maskapai melakukan penyesuaian jadwal yang merugikan, kesulitan refund, hingga pengalihan rute yang tidak masuk akal.

Apakah adil menjadikan hak-hak dasar penumpang sebagai “tumbal” untuk menambal lubang neraca keuangan perusahaan?

Gugatan Nurani

Kita melihat perusahaan besar berlindung di balik angka inflasi dan harga minyak mentah untuk membenarkan ketidaknyamanan yang mereka ciptakan. Mereka meminta maaf dengan kata-kata santun, sementara penumpang kehilangan waktu berharga, peluang bisnis, hingga momen bersama keluarga.

Noel ‘Ngotot’ Berobat Keluar Rutan: Celah Privilege atau Hak Medis?

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement