SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opini
Home » Berita » Dani Nursalam dan Luka di Hati Orang Melayu Riau

Dani Nursalam dan Luka di Hati Orang Melayu Riau

Abdul Wahid dalam Kampanye di Indragiri Hilir, Riau. Amriyadi/headlinesia.com
Abdul Wahid dalam Kampanye di Indragiri Hilir, Riau. Amriyadi/headlinesia.com

Oleh: Yung Kelana, Putra Melayu Asli Riau

Dalam politik, tidak semua luka lahir dari perbedaan pandangan. Ada luka yang justru datang dari orang-orang yang pernah berjalan dalam barisan yang sama, duduk dalam lingkar perjuangan yang sama, dan mengaku memikul cita-cita yang sama.

Kalaulah apa yang dilakukan Dani M Nursalam, mengutip dan meminta uang ke PUPR pantas disebut sebagai sebuah pengkhianatan – Dani sejatinya bukan hanya mengkhianati sahabat seperjuangannya Abdul Wahid – tapi ia telah mengkhianati masyarakat yang menaruh harapan besar kepada Abdul Wahid untuk membawa Riau lebih maju.

Jika benar apa yang terungkap dalam berbagai proses hukum dan persidangan itu, yang terluka bukan hanya hubungan persahabatan di antara dua orang manusia. Yang terluka adalah kepercayaan masyarakat yang selama ini menggantungkan harapan pada kepemimpinan Abdul Wahid.

Sebab seorang pemimpin tidak pernah berdiri sendirian. Di belakangnya ada ribuan bahkan jutaan harapan yang ikut berdiri.

Abdul Wahid: Terkesan Jaksa sebagai Advokat Dani M Nursalam

Ada harapan para petani kelapa di Mandah, Guntung, Pulau Kijang, Enok, dan kampung-kampung lain di Indragiri Hilir yang sejak lama bermimpi harga kelapa lebih stabil dan kehidupan mereka lebih layak.
Ada harapan anak-anak pesisir di Rangsang, Merbau, Belitung, Tebing Tinggi, dan pulau-pulau kecil lainnya yang ingin kampungnya lebih terang, listrik lebih baik, kesempatan hidup lebih luas, dan masa depan tidak lagi harus dicari jauh meninggalkan tanah kelahiran.
Ada pula harapan masyarakat yang hidup di tepian Sungai Rokan, Sungai Siak, Sungai Kampar, Sungai Indragiri, hingga Batang Kuantan. Mereka tidak sedang meminta kemewahan. Mereka hanya ingin daerahnya maju, ekonominya tumbuh, dan kesejahteraan hadir lebih dekat dalam kehidupan mereka.

Karena itu, ketika sebuah perkara menyeret nama Abdul Wahid, seorang pemimpin yang menjadi tumpuan harapan rakyat, kegelisahan yang muncul bukan hanya soal hukum. Kegelisahan itu menyentuh ruang batin masyarakat.
Bagi orang Melayu Riau, peristiwa seperti ini membangunkan kembali ingatan lama yang belum sepenuhnya sembuh.

Masyarakat masih mengingat bagaimana sejumlah pemimpin daerah yang pernah mereka banggakan pada akhirnya harus berhadapan dengan persoalan hukum. Setiap kali peristiwa serupa terjadi, luka lama itu seakan disobek kembali. Apatah lagi dalam perkarara Abdul Wahid banyak kejanggalan sejak awal peristiwa. Dan kali ini luka lama itu bukan ditoreh oleh sang pemimpin itu sendiri. Dani M Nursalam selaku orang kepercayaannya lah yang menorehkan hingga sang pemimpin jatuh tersungkur dan berdarah. Sejarah kembali menikam jejaknya di Riau.

Maka persoalan ini tidak bisa dilihat semata-mata sebagai perkara individu. Ia telah berkembang menjadi persoalan psikologis dan sosial masyarakat Melayu Riau.
Yang paling menyedihkan adalah ketika sebuah celah muncul dari lingkungan yang seharusnya menjadi benteng terdekat seorang pemimpin.

Dalam tradisi Melayu, sahabat bukan sekadar teman seperjalanan. Sahabat adalah orang yang menjaga marwah ketika orang lain mencoba menjatuhkannya. Sahabat adalah orang yang menutup aib, bukan membuka pintu bagi datangnya badai. Sahabat adalah yang mengingatkan dan menasehati. Sebab itu, pengkhianatan selalu terasa lebih menyakitkan daripada serangan lawan.
Jika benar rangkaian peristiwa ini bermula dari tindakan yang dilakukan oleh orang yang berada dalam lingkaran kepercayaan itu sendiri, maka masyarakat berhak merasa kecewa. Bukan semata kepada akibat hukumnya, melainkan kepada hilangnya nilai-nilai kesetiaan yang selama ini dijunjung tinggi oleh budaya Melayu.

Wapres Gibran: Selamat Bekerja Bapak Sudaryono

“Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”

Kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU), kami hendak berbisik: Tuduhan pola korupsi yang disematkan kepada Abdul Wahid—seperti kepada terdakwa lainnya—sesungguhnya keliru jika tak melihat wataknya. Abdul Wahid adalah budak Melayu yang setia pada kawan, tak segan membantu bila dibutuhkan. Pantang baginya menjahanamkan kawan. Apalagi menjahanamkan orang-orang yang mengabdi kepadanya. Bukan watak Abdul Wahid, demi kepentingan pribadi ia korbankan orang lain.

Apatah lagi dari awal rentetan peristiwa, hingga tersajinya fakta-fakta di persidangan dengan menghadirkan 40 orang saksi, tak lah ada secuil bukti pun yang benar-benar kuat, benar-benar terang, bahwa Abdul Wahid ada melakukan tindakan melawan hukum sebagaimana yang didakwakan.

“Ada luka yang datang dari musuh, lalu sembuh oleh waktu.
Tetapi ada luka yang datang dari sahabat sendiri, lalu tinggal lama di dalam dada, menjadi perih yang tak kunjung reda”

Prabowo Tunjuk Sudaryono Jadi Kepala BGN Gantikan Nanik S Deyang

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Headline Video Channel

@headlinesia.com

Dr. Chairul Huda, SH, MH menjadi saksi ahli dalam Perkara Abdul Wahid. Dalam Keterangan kepada HEADLINESIA.com menjelaskan bahwa Dakwaan minim bukti bahkan terkesan dipaksakan. Apa pernyataan lengkapnya untuk kesaksian Abdul Wahid menurut Ahli Pidana kondang Indonesia ini? Simak di video berikut. Baca di: www.headlinesia.com #headlinesia

♬ original sound - headlinesia.com - headlinesia.com

Trend Headlinesia

01

Istri Dani Jadi Saksi pada Agenda Pembuktian, Hakim: Lho…Nggak Begini Juga Konsepnya

02

Plot Twist Sidang Abdul Wahid: Jaksa Salah Sebut Umur, Mengutip Ayat Tidak Relevan dan Penggal Fakta Persidangan

03

31 Kali Kalimat Demi Allah diucapkan Abdul Wahid Bantah Tuduhan dan 6 Fakta Mencengangkan

Headline News