HEADLINESIA.com, JAKARTA, 2 MEI 2026 – Presiden Prabowo Subianto memerintahkan bank BUMN mengucurkan kredit rakyat bunga maksimal 5 persen per tahun di Monas, Jakarta, Jumat (2/5/2026). Kebijakan ini bertujuan meringankan beban ekonomi buruh yang kian terhimpit situasi sulit.
Gebrakan Prabowo kucurkan kredit bunga 5 persen demi buruh. Namun, pakar justru melihat ancaman serius bagi kesehatan finansial perbankan pelat merah.
Fokus Kesejahteraan Buruh dan Ojol
Langkah besar ini diambil di tengah sorotan tajam terhadap sulitnya perekonomian para pekerja di Indonesia. Secara khusus, Presiden menyoroti nasib pengemudi ojek daring yang terbebani potongan biaya aplikasi hingga 20 persen.
Sehubungan dengan itu, Prabowo menyatakan ketidaksetujuannya terhadap besaran potongan yang dinilai terlalu mencekik para driver tersebut. “Harus di bawah 10 persen,” tegasnya di hadapan massa yang memadati kawasan Monumen Nasional.
Selain itu, Presiden memastikan bank-bank pelat merah akan segera merealisasikan program bantuan modal berbiaya rendah tersebut. “Saya sudah perintahkan bank-bank milik Republik Indonesia untuk kucurkan kredit rakyat maksimal 5 persen setahun,” ujarnya.
Sinyal Bahaya untuk Perbankan Negara
Meskipun berniat mulia, rencana ini memicu kekhawatiran dari sisi stabilitas keuangan sektor perbankan nasional. Managing Director Research Samuel Sekuritas, Harry Su, memberikan catatan kritis atas potensi dampak negatif kebijakan tersebut.
“Berita buruk untuk bank-bank milik negara dan Samuel Sekuritas melihat adanya lima risiko,” ungkap Harry Su.
Pihaknya memprediksi lima dampak negatif, mulai dari penurunan selisih bunga (NIM) hingga potensi lonjakan kredit macet. Terakhir, penurunan efisiensi modal dan anjloknya valuasi saham perbankan juga menjadi ancaman nyata yang patut diwaspadai.

Comment