HEADLINESIA.com, BALIKPAPAN, 27 AGUSTUS 2026 – Dinas Kesehatan Kabupaten Paser mencatat angka kasus ISPA Paser rata-rata mencapai 900 kasus setiap minggu. Fenomena cuaca kering serta polusi debu musim kemarau menjadi pemicu utama kenaikan kasus ini. Data tersebut berasal dari Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon sejak Juli 2026.
Selain itu, Kepala Dinkes Paser Amri Yulihardi menegaskan bahwa kabut asap karhutla bukan penyebab utama lonjakan. Menurutnya, polusi debu jalanan yang terbang akibat angin kering lebih memicu gangguan pernapasan warga.
“Kasus ISPA di Paser lebih disebabkan oleh cuaca kering yang menimbulkan debu,” ujar Amri, Rabu (26/8/2026). Bahkan, ia memastikan belum menerima data spesifik penderita ISPA akibat asap karhutla dari puskesmas.
Warga Usia Produktif Dominan Terjangkit ISPA Paser
Sementara itu, Amri membeberkan bahwa penderita ISPA di wilayahnya dominan menyerang kelompok usia produktif. Kelompok ini dinilai sangat rentan karena memiliki mobilitas dan aktivitas luar ruangan yang tinggi. “Mereka bekerja di luar rumah sehingga langsung terpapar debu dan cuaca panas,” tuturnya.
Meskipun begitu, tren penularan penyakit saluran pernapasan ini mulai menunjukkan penurunan pada akhir Agustus. Pada pekan ke-33, laporan penderita ISPA dari seluruh puskesmas melandai ke angka 800-an kasus.
Banyak Faktor Pemicu dan Imbauan Kesehatan
Di sisi lain, penyakit ISPA selalu masuk dalam daftar tiga besar penyakit terbanyak di Paser. Amri menjelaskan bahwa infeksi virus, bakteri, alergi, serta asap rokok turut menjadi faktor penentu. “Daya tahan tubuh kelompok rentan seperti balita dan lansia sangat memengaruhi potensi penularan,” imbuhnya.
Oleh karena itu, Dinkes Paser mengimbau masyarakat untuk memperketat perlindungan diri saat beraktivitas di luar. Masyarakat perlu disiplin memakai masker, rutin minum air putih, serta menerapkan pola hidup bersih. “Segera berobat ke puskesmas jika mengalami batuk, pilek, atau sesak napas yang tak kunjung membaik,” pungkasnya.

Comment