SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lifestyle
Home » Berita » Nastar Ratu Kue Lebaran bukan Asli Indonesia

Nastar Ratu Kue Lebaran bukan Asli Indonesia

Peranakan pineapple tart, with pineapple jam on top
Peranakan pineapple tart, with pineapple jam on top

HEADLINESIA.com, JAKARTA, 15 MARET 2026 – Menjelang Idul Fitri 2026, kue nastar kembali mendominasi meja warga Indonesia sebagai sajian wajib. Padahal, kudapan berbahan nanas ini merupakan adaptasi pie Belanda yang dimodifikasi warga pribumi karena sulitnya menemukan buah blueberry dan apel di tanah air.

Nastar secara etimologi berasal dari bahasa Belanda, ananas (nanas) dan taartjes (tart). Resep aslinya terinspirasi dari kue pie Eropa yang dipanggang dalam loyang besar. Namun, karena keterbatasan bahan di Nusantara kala itu, para pembuatnya memutar otak dengan mengganti isian buah subtropis menggunakan nanas yang memiliki sensasi rasa asam manis serupa.

Evolusi Pie Belanda Jadi Simbol Keberuntungan

Seiring berjalannya waktu, nastar mengalami transformasi bentuk yang signifikan agar lebih praktis. “Di Belanda pie diolah dalam loyang besar, di Indonesia dibentuk bulatan kecil agar mudah dikonsumsi sekali makan,” ungkap Chef Andreas dari Indonesian Chef Association. Modifikasi ini justru membuat nastar menjadi ikonik dengan tekstur adonan mentega yang lumer dan hiasan cengkih di atasnya.

Tak hanya lekat dengan Idul Fitri, nastar juga menjadi simbol penting dalam budaya Tionghoa atau Imlek. Dalam bahasa Hokian, kudapan ini disebut Ong Lai yang berarti buah pir emas. Warna kuning keemasan serta rasa manisnya dianggap melambangkan rezeki yang manis dan berlimpah bagi siapa pun yang mengonsumsinya. Hingga kini, posisi nastar dalam kategori kuliner masih sering diperdebatkan. Sebagian menganggapnya kue basah karena tekstur isian selainya yang lembab dan lembut di mulut, sangat berbeda dengan karakteristik kue kering pada umumnya yang cenderung renyah (crunchy). Meski begitu, nastar tetap menjadi primadona yang tak tergantikan di setiap perayaan besar di Indonesia.

UNIDO: Hilirisasi Industri Indonesia Praktik Terbaik Dunia

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Headline Video Channel

@headlinesia.com

Dr. Chairul Huda, SH, MH menjadi saksi ahli dalam Perkara Abdul Wahid. Dalam Keterangan kepada HEADLINESIA.com menjelaskan bahwa Dakwaan minim bukti bahkan terkesan dipaksakan. Apa pernyataan lengkapnya untuk kesaksian Abdul Wahid menurut Ahli Pidana kondang Indonesia ini? Simak di video berikut. Baca di: www.headlinesia.com #headlinesia

♬ original sound - headlinesia.com - headlinesia.com

Trend Headlinesia

01

Istri Dani Jadi Saksi pada Agenda Pembuktian, Hakim: Lho…Nggak Begini Juga Konsepnya

02

Plot Twist Sidang Abdul Wahid: Jaksa Salah Sebut Umur, Mengutip Ayat Tidak Relevan dan Penggal Fakta Persidangan

03

31 Kali Kalimat Demi Allah diucapkan Abdul Wahid Bantah Tuduhan dan 6 Fakta Mencengangkan

Headline News