Oleh: Edi Basri | Bacalon Ketua KONI Riau
Sebuah Pemikiran tentang Demokrasi, Integritas, dan Masa Depan Olahraga Riau
Saudara-saudara, para Ketua KONI Kabupaten/Kota, pimpinan cabang olahraga, serta seluruh insan olahraga Riau yang saya hormati.
Ada satu prinsip yang menurut saya harus kita jaga bersama dalam proses pemilihan Ketua KONI Provinsi Riau: demokrasi adalah ruang untuk menghormati perbedaan, bukan ruang untuk memaksakan keseragaman.
Demokrasi lahir dari kesadaran bahwa setiap orang memiliki hak untuk menentukan pilihan. Hak tersebut merupakan bagian dari hak asasi manusia yang harus dihormati. Karena itu, dalam sebuah organisasi yang menjunjung tinggi demokrasi, tidak boleh ada pihak yang merasa memiliki hak lebih besar untuk menentukan pilihan orang lain.
Kita harus memahami bahwa pemilihan pemimpin bukanlah proses penunjukan berdasarkan kedekatan kekuasaan, tekanan, ataupun kemampuan membangun transaksi dukungan. Pemilihan adalah proses memberikan kepercayaan melalui mekanisme yang disepakati bersama.
1. AKLAMASI BUKAN KEWAJIBAN, DEMOKRASI MEMBERIKAN RUANG UNTUK MEMILIH
Saya ingin meluruskan satu hal.
Aklamasi bukan sesuatu yang salah. Aklamasi dapat menjadi keputusan yang baik apabila lahir secara alamiah, melalui kesepakatan yang tulus, tanpa tekanan, tanpa intimidasi, dan tanpa menghilangkan hak seseorang untuk menyampaikan pilihan.
Tetapi ketika aklamasi didorong melalui tekanan, pengondisian, pemaksaan dukungan, atau penggunaan pengaruh kekuasaan, maka kita perlu mempertanyakan apakah kesepakatan itu benar-benar lahir dari kehendak bebas para pemilik suara.
Jangan sampai demokrasi hanya dijadikan formalitas untuk membenarkan sebuah keputusan yang sesungguhnya sudah dikondisikan sebelumnya.
Kita tidak sedang membangun kerajaan. Kita sedang membangun organisasi olahraga.
Dalam organisasi yang demokratis, tidak boleh ada pemimpin yang merasa bahwa jabatan merupakan hak miliknya, apalagi merasa bahwa semua orang harus tunduk pada kehendaknya.
Demokrasi bukan tentang bagaimana membuat semua orang memilih orang yang sama, tetapi bagaimana memastikan setiap orang bebas menentukan pilihannya.
2. DEMOKRASI ADALAH UJIAN INTEGRITAS DAN KESATRIAAN
Menurut saya, proses pemilihan pemimpin juga merupakan ujian karakter.
Ujian bagi calon pemimpin adalah apakah ia mampu menerima perbedaan dan menghormati hak orang lain.
Ujian bagi pemilik suara adalah apakah ia mampu menjaga independensi, integritas, dan tanggung jawabnya dalam menentukan pilihan.
Ujian bagi seluruh peserta kontestasi adalah apakah kita mampu menjaga persaudaraan ketika menghadapi perbedaan pandangan.
Jangan sampai karena berbeda pilihan, hubungan persahabatan dirusak, komunikasi diputus, atau seseorang dianggap sebagai lawan yang harus disingkirkan.
Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan kehilangan persaudaraan.
Kita boleh berkompetisi, tetapi jangan kehilangan kehormatan.
Kita boleh memiliki ambisi memimpin, tetapi jangan mengorbankan nilai-nilai organisasi.
3. JANGAN MEMBAWA KEKUASAAN KE DALAM RUANG KEBEBASAN ORGANISASI
KONI adalah organisasi yang memiliki mekanisme, aturan, dan kedaulatan organisasi sendiri.
Karena itu, kita harus menjaga agar proses pemilihannya berjalan sesuai AD/ART dan ketentuan organisasi.
Apabila muncul klaim dukungan pejabat, pemerintah daerah, atau pihak-pihak yang memiliki pengaruh kekuasaan, hendaknya hal tersebut tidak dijadikan alasan untuk membatasi kebebasan para pemilik suara.
Bupati, wali kota, gubernur, dan seluruh unsur pemerintahan tentu memiliki kedudukan dan peran masing-masing dalam mendukung pembangunan olahraga.
Namun, hak menentukan kepemimpinan KONI harus tetap berada dalam mekanisme organisasi.
Dukungan pemerintah terhadap olahraga harus kita bangun melalui kemitraan, bukan melalui tekanan politik.
Kita membutuhkan sinergi pemerintah dan KONI, tetapi sinergi itu harus dibangun di atas penghormatan terhadap independensi organisasi.
Begitu pula dengan janji-janji kompensasi atau keuntungan tertentu dalam proses memperoleh dukungan. Hal-hal seperti itu harus dihindari karena dapat menggeser orientasi pemilihan dari kepentingan olahraga menjadi kepentingan transaksional.
4. SELESAI PEMILIHAN, TIDAK BOLEH ADA PEMANGKASAN DAN PENYINGKIRAN
Ini bagian yang menurut saya sangat penting.
Setelah proses demokrasi selesai, siapa pun yang mendapatkan kepercayaan harus menjadi pemimpin bagi seluruh insan olahraga Riau, bukan hanya bagi kelompok yang mendukungnya.
Jangan ada pemangkasan, penyingkiran, atau pengucilan terhadap orang-orang yang berbeda pilihan.
Mengapa?
Karena organisasi besar tidak mungkin dibangun hanya oleh orang-orang yang memiliki kesamaan pilihan.
Organisasi besar membutuhkan berbagai pemikiran, pengalaman, kemampuan, jaringan, dan potensi.
Orang yang kemarin berbeda pilihan bisa saja memiliki kapasitas terbaik dalam mengurus pembinaan atlet, pengembangan cabang olahraga, manajemen organisasi, pendanaan, maupun peningkatan prestasi.
Jangan membuang potensi hanya karena perbedaan politik organisasi.
Kita harus membedakan antara perbedaan pilihan dengan kemampuan seseorang untuk bekerja dan mengabdi.
Kemenangan dalam pemilihan bukanlah kemenangan untuk menguasai organisasi. Kemenangan adalah amanah untuk menyatukan seluruh kekuatan.
5. KONI MEMBUTUHKAN KOLABORASI, BUKAN POLARISASI
Kita harus kembali kepada tujuan utama keberadaan KONI.
KONI bukan dibentuk untuk memenuhi ambisi seseorang. KONI dibentuk untuk membina olahraga, meningkatkan kualitas atlet, memperkuat cabang olahraga, meningkatkan kesejahteraan insan olahraga, dan mengangkat prestasi Riau di tingkat nasional maupun internasional.
Persoalan olahraga Riau masih banyak.
Kita membutuhkan pembinaan atlet yang berkelanjutan, peningkatan kualitas pelatih, perbaikan tata kelola organisasi, dukungan anggaran yang proporsional, fasilitas olahraga yang memadai, serta sistem penghargaan yang adil bagi atlet dan insan olahraga.
Semua itu tidak mungkin diwujudkan dengan perpecahan.
Kita membutuhkan orang-orang yang mampu bekerja, bukan sekadar orang-orang yang pandai mengumpulkan dukungan.
Kita membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul, bukan kepemimpinan yang membangun sekat.
Kita membutuhkan organisasi yang profesional, transparan, akuntabel, dan berorientasi pada prestasi.
6. JADIKAN PEMILIHAN INI SEBAGAI PENDIDIKAN DEMOKRASI
Saya mengajak seluruh pemilik suara untuk menjadikan pemilihan Ketua KONI Riau sebagai momentum pendidikan demokrasi.
Gunakan hak suara dengan penuh tanggung jawab.
Nilailah setiap calon berdasarkan gagasan, kapasitas, integritas, pengalaman, komitmen, dan program kerjanya.
Jangan merasa terpaksa karena tekanan siapa pun.
Jangan pula merasa harus mengikuti pilihan seseorang hanya karena ia memiliki kedudukan atau kekuasaan.
Setiap pemilik suara memiliki kehormatan dan tanggung jawab yang sama dalam menentukan masa depan organisasi.
Kita harus membuktikan bahwa insan olahraga Riau adalah masyarakat organisasi yang dewasa, mampu menghormati perbedaan, dan sanggup menjaga persaudaraan.
PENUTUP: BERBEDA PILIHAN, TETAP SATU TUJUAN
Saudara-saudara yang saya hormati.
Saya ingin mengakhiri pemikiran ini dengan sebuah pesan.
Jangan kita wariskan kepada generasi olahraga Riau sebuah budaya organisasi yang dibangun atas dasar tekanan, transaksi, dan penyingkiran.
Wariskanlah budaya demokrasi yang sehat, kepemimpinan yang amanah, persaudaraan yang kuat, dan profesionalisme yang berorientasi pada prestasi.
Kita boleh berbeda dalam menentukan siapa yang akan memimpin KONI Riau. Tetapi setelah proses pemilihan selesai, kita harus kembali duduk bersama, bergandengan tangan, dan bekerja secara proporsional sesuai kapasitas masing-masing.
Tidak ada yang harus merasa menjadi musuh hanya karena berbeda pilihan.
Tidak ada potensi yang harus dibuang hanya karena berbeda dukungan.
Dan tidak ada kelompok yang boleh merasa memiliki organisasi ini secara eksklusif.
Sebab KONI adalah rumah besar seluruh insan olahraga Riau.
Demokrasi memberikan kita hak untuk berbeda. Integritas mengajarkan kita untuk menghormati perbedaan. Dan tanggung jawab mengharuskan kita untuk kembali bersatu demi tujuan yang lebih besar.
Tujuan kita bukan sekadar memenangkan sebuah pemilihan, tetapi bagaimana olahraga Riau mampu melahirkan prestasi dan kebanggaan bagi masyarakat.
Mari kita jaga demokrasi. Mari kita jaga persaudaraan. Mari kita bangun KONI Riau dengan semangat kebersamaan.
Berbeda pilihan bukan berarti berbeda tujuan. Berkompetisi bukan berarti bermusuhan. Dan menjadi pemimpin bukan berarti berhak menyingkirkan mereka yang berbeda pandangan.
Salam olahraga!

Comment