HEADLINESIA.com, JAKARTA, 21 FEBRUARI 2026 – Pemerintah resmi memperpanjang izin operasi PT Freeport Indonesia pasca-2041 di Washington, Jumat (20/2), demi menjamin keberlanjutan eksplorasi cadangan baru. Langkah strategis ini sekaligus meningkatkan kepemilikan saham Indonesia hingga 63 persen tanpa biaya akuisisi guna mendongkrak pendapatan negara secara signifikan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa keputusan ini bukan tanpa alasan. Produksi Freeport diprediksi mencapai puncaknya pada 2035 dengan angka mencapai 3,2 juta ton konsentrat tembaga dan 60 ton emas. Tanpa perpanjangan, operasional di Timika terancam mandek.
“Diharapkan pendapatan negara harus jauh lebih tinggi ketimbang pendapatan negara yang ada sekarang ini, termasuk di dalamnya royalti dan pajak-pajak lain khususnya emas,” tegas Bahlil. Melalui kesepakatan baru ini, Indonesia mengantongi tambahan divestasi 12% saham secara cuma-cuma, memperkuat posisi negara sebagai pemegang saham mayoritas.
Investasi Jumbo dan Aliansi Strategis
Senada dengan Bahlil, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan bahwa komitmen ini memicu aliran investasi baru sebesar US$ 20 miliar atau setara Rp 337,6 triliun. Angka fantastis ini diproyeksikan masuk dalam dua dekade ke depan, memberikan efek domino positif bagi sektor fiskal.
“Ini juga akan memberikan dampak yang positif, baik dari segi penerimaan pajak dan yang lain-lainnya,” jelas Rosan.
Kerja sama ini menjadi bagian dari kesepakatan ekonomi ‘Toward a New Golden Age for the US-Indonesia Alliance’. Untuk memastikan kelancaran operasional Freeport yang bermarkas di Arizona, koordinasi teknis akan terus dipantau melalui Konsulat Jenderal RI di Los Angeles serta jaringan perwakilan diplomatik di Amerika Serikat.

Comment