Sebuah tragedi kemanusiaan menyayat hati terjadi di Jayapura, Papua. Irene Sokoy, ibu hamil asal Kampung Hobong, meninggal dunia bersama bayi dalam kandungannya setelah berulang kali ditolak oleh empat rumah sakit berbeda dalam perjalanan panjangnya mencari pertolongan persalinan. Kisah pilu yang bermula dari RS Yowari dan berakhir di jalan menuju RSUD Jayapura ini memantik kemarahan keras Gubernur Papua.
HEADLINESIA.com, JAYAPURA, 21 NOVEMBER 2025 – – Awal minggu ini, Kabupaten Jayapura diguncang oleh kabar duka yang memprihatinkan. Irene Sokoy, seorang ibu hamil dari Kampung Hobong, Distrik Sentani, meninggal dunia bersama janin yang dikandungnya pada Selasa (18/11/2025). Kematiannya diduga kuat akibat penolakan beruntun yang diterima dari sejumlah rumah sakit ketika ia paling membutuhkan pertolongan medis.
Kronologi pilu ini berawal sekitar pukul 03.00 WIT, ketika keluarga membawa Irene dari Kampung Kensio menggunakan speedboat menuju Rumah Sakit Yowari. Harapan untuk segera melahirkan dengan selamat pupus sudah. RS Yowari menolak melayani Irene dengan alasan berat bayi mencapai 4 kilogram sehingga memerlukan operasi. Ia pun dirujuk ke RSUD Abepura.
Namun, nestapa belum juga berakhir. Di RSUD Abepura, Irene kembali tidak dilayani dan hanya menerima surat rujukan untuk menuju Rumah Sakit Dian Harapan. Lagi-lagi, di RS Dian Harapan, nasib sial yang sama terulang. Irene kembali diarahkan untuk menuju RS Bhayangkara.
Saat tiba di RS Bhayangkara, pukulan terberat justru datang. Pihak rumah sakit meminta uang sebesar Rp 8 juta sebagai syarat untuk melakukan operasi. Keluarga yang tidak memiliki dana sebesar itu terpaksa membawa Irene keluar, berharap bisa mendapatkan pertolongan di RSUD Jayapura. Malang tak dapat ditolak, dalam perjalanan menuju rumah sakit terakhir itu, nyawa Irene dan bayinya tidak tertolong.
Merespons tragedi ini, Wakil Bupati Jayapura, Harrris Richard Yocku, menyampaikan belasungkawa yang mendalam. “Terkait ibu dan anak yang meninggal kami sampaikan belasungkawa buat keluarga, tetap diberikan kekuatan,” ujarnya di Sentani, Kamis (20/11/2025). Ia menyebut komitmen pemerintah daerah untuk meningkatkan layanan di RSUD Yowari. “Komitmen saya dan Pak Bupati adalah terus berupaya memperbaiki infrastruktur dan pelayanan di RSUD Yowari agar lebih baik,” tegasnya.
Sementara itu, kemarahan justru datang dari pucuk pimpinan daerah. Gubernur Papua, Mathius Fakhiri, menyatakan kegereamannya atas insiden penolakan pasien ini. Gubernur menegaskan seluruh rumah sakit dan puskesmas di Papua dilarang keras menolak pasien dengan alasan apa pun. “Sekali lagi saya ingatkan kepada seluruh rumah sakit, puskesmas dan tenaga medis dilarang menolak pasien dengan alasan apa pun, termasuk yang gawat darurat,” tegas Gubernur di Kota Jayapura.
Mantan Kapolda Papua ini tidak main-main dengan ancamannya. Ia menyatakan siap mencopot tenaga medis yang kedapatan masih menolak pasien. “Saya sampaikan jangan tolak pasien yang datang untuk berobat. Jika masih ada yang tolak maka saya pastikan akan copot,” tegas Fakhiri tanpa ragu.
Tragedi Irene Sokoy ini menjadi pengingat kelam tentang betapa rapuhnya akses kesehatan bagi masyarakat di pelosok. Sebuah nyawa dan calon generasi baru harus melayang sia-sia, meninggalkan pertanyaan besar tentang komitmen nyata pelayanan kesehatan untuk semua.

Comment