Di tengah suasana pasar yang suram diterpa daya beli masyarakat yang lesu dan badai isu boikot, PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) justru memetik kemenangan gemilang. Raksasa barang konsumen ini berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih yang impresif sebesar 10,81% menjadi Rp3,33 triliun pada kuartal III-2025. Kinerja cemerlang ini dibangun di atas strategi efisiensi besar-besaran dan transformasi portofolio produk yang jitu, membuktikan ketangguhan perseroan dalam menghadapi tekanan ekonomi.
HEADLINESIA.com, JAKARTA, 24 OKTOBER 2025 – Badai tantangan di sektor manufaktur konsumen tidak mampu menjungkalkan kinerja PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR). Publikasi laporan keuangan kuartal III-2025 perusahaan mencatatkan fakta mencengangkan: laba bersih meroket 10,81% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp3,33 triliun, dari posisi sebelumnya Rp3 triliun pada periode yang sama tahun 2024. Pencapaian ini ibarat oasis di tengah gurun, mengingat sektor ini sedang dilanda fenomena pelemahan daya beli dan secara khusus Unilever dihantam isu boikot.
Di balik lonjakan laba yang tajam, penjualan bersih justru hanya merangkak naik tipis 0,71% yoy menjadi Rp27,61 triliun. Lalu, dari mana sumber pertumbuhan laba? Rahasianya terletak pada strategi efisiensi dan pemangkasan biaya secara agresif yang dijalankan manajemen. UNVR berhasil menekan beban pemasaran dan penjualan menjadi Rp6,45 triliun, serta memangkas beban karyawan menjadi Rp1,56 triliun. Kebijakan ini berdampak pada menyusutnya jumlah karyawan sebanyak 390 orang dalam setahun terakhir.
Strategi perusahaan tidak hanya berhenti di penghematan. Presiden Direktur UNVR, Benjie Yap, mengungkapkan tiga pilar strategi yang menjadi motor penggerak. “Kami mengarahkan portofolio ke segmen berpotensi tinggi, mendorong penjualan melalui kanal digital, dan fokus pada peningkatan margin,” jelas Benjie dalam paparan publik, Kamis (23/10/2025).
Dari sisi produk, inovasi menjadi kata kunci. Lebih dari 85% merek Unilever telah meluncurkan inovasi baru sepanjang 2025. Sebanyak 14 pilar merek, termasuk Pepsodent, Bango, Dove, dan Rexona, mencatatkan pertumbuhan positif dan menyumbang 65% dari total penjualan. Transformasi di lapangan juga gencar dilakukan melalui strategi Go-to-Market yang memperluas jangkauan ritel 18% dan meningkatkan tenaga penjualan langsung 19%.
Menjelang akhir tahun, Benjie menyatakan perusahaan akan tetap fokus pada eksekusi yang disiplin. Ia mengakui tekanan daya beli masih ada, terutama di segmen kosmetik. “Yang penting adalah bagaimana kita menetapkan portofolio yang tepat agar bisa mendukung kebutuhan konsumen ketika tekanan ekonomi menghantam,” tandasnya.
Upaya memperkuat relevansi dengan konsumen dilakukan dengan meluncurkan ulang sejumlah produk dengan nilai tambah baru. Ke depan, Unilever akan terus memperluas pasar, menjaga harga, dan memanfaatkan peluang besar dari pertumbuhan e-commerce untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah iklim ekonomi yang penuh ketidakpastian.

Comment