SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebijakan
Home / Kebijakan / Harga Beras Melambung di 200 Kota, Tata Kelola Keliru

Harga Beras Melambung di 200 Kota, Tata Kelola Keliru

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa

Harga beras terus meroket dan memecahkan rekor sepanjang Agustus 2025, meski stok beras di gudang Perum Bulog justru dalam kondisi melimpah. Paradoks ini diungkapkan oleh pakar yang menyoroti kesalahan fundamental dalam tata kelola perberasan nasional, dimana stok pemerintah hanya ‘ditumpuk’ dan tidak efektif meredam gejolak harga di pasar.


HEADLINESIA.com, JAKARTA, 25 AGUSTUS 2025 – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga beras terjadi secara masif dan konsisten sepanjang pekan ketiga Agustus 2025. Komoditas pangan pokok ini mengalami kenaikan harga di 200 kabupaten/kota, yang merupakan puncak dari tren kenaikan beruntun sejak awal bulan. Sebelumnya, pada pekan kedua Agustus, kenaikan terjadi di 193 wilayah, dan di pekan pertama di 191 kabupaten/kota.

Kenaikan ini terjadi di semua zona dan mencakup beras kualitas medium maupun premium. Situasi ini memicu pertanyaan besar, mengapa harga bisa terus terkerek padahal Perum Bulog menguasai stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang sangat besar, mencapai 3,91 juta ton per 24 Agustus 2025.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, menegaskan bahwa melambungnya harga beras yang bahkan melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) adalah buah dari kesalahan tata kelola perberasan nasional. Menurutnya, stok Bulog yang melimpah itu tidak berarti apa-apa bagi pasar.

“Stok Bulog sekali lagi tidak mencerminkan apapun. Karena stok Bulog kan tidak dipakai, hanya ditumpuk saja. Bagaimana bisa mengendalikan harga?” tegas Andreas saat dihubungi Bisnis, Senin (25/8/2025).

Aceh Dilanda Bencana, 13 Ribu Jiwa Mengungsi

Andreas menjelaskan, stok tersebut hanya menumpuk di gudang dan tidak dialirkan secara efektif untuk menstabilkan pasar. Dari total stok yang ada, pemerintah mengalokasikan 360.000 ton untuk bantuan pangan dan 1,3 juta ton untuk program Stabilisasi Harga dan Supply Pangan (SPHP). Namun, realisasi penyaluran beras SPHP dinilai masih belum optimal dan gagal menekan harga.

Faktor lain yang memperparah situasi adalah banyaknya penggilingan padi yang tutup dan tidak beroperasi. Andreas menyebut para penggiling merasa ditakut-takuti dan ada tekanan harga terhadap petani. “Jadi sekarang ini suasana perberasan di nasional ini sangat tidak nyaman,” ujarnya. Akibatnya, pasokan beras di tingkat pasar ritel menipis, yang secara otomatis mendongkrak harga sesuai hukum pasar.

Senada dengan Andreas, Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, juga menyoroti lemahnya penyaluran beras SPHP. Khudori menilai operasi pasar yang seharusnya menjadi instrumen stabilisasi harga belum berjalan efektif dan optimal.

Kedua pakar sepakat bahwa solusi jangka pendek tidak akan mempan selama tata kelola nasional tidak diperbaiki. Andreas menyarankan agar pemerintah jeli membaca sinyal harga dan segera melakukan koreksi total terhadap kebijakan perberasan yang ada. Tanpa langkah perbaikan yang konkret, harga beras diprediksi akan tetap merangkak naik, memberatkan daya beli masyarakat.

Banjir Sumbar: 22 Korban Jiwa 10 Hilang

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trend Headlinesia

01

KPK OTT Dinas PUPR Riau, Gubernur Abdul Wahid Dimintai Keterangan, Bukan Ditangkap!

02

Tenaga Ahli Gubernur Riau Beberkan Kejanggalan OTT KPK

03

OTT KPK di PUPR Riau: 14 Pengacara Siap Bergabung, TPF Fokus Mengumpulkan Data Kejadian

04

Gubernur Riau Abdul Wahid Justru Jadi Saksi Kunci Lapor Suap Rp250 Juta

05

OTT di Dinas PUPR-PKPP Riau, Alumni UIN Suska Bentuk TPF

06

Ancaman Serius PT PP Terhadap Dunia Pendidikan, Mahasiswa Unri Praktikum Menggunakan Drone di curigai dan di larang oleh Pihak PT PP

07

Mengurai Kewenangan Plh Gubernur Riau di Tengah Kontroversi Mutasi Jabatan

08

Keadilan di Tengah Badai Kekuasaan Menguji Integritas KPK di Bumi Lancang Kuning

New Headline










×
×