HEADLINESIA.com, JAMBI, 10 AGUSTUS 2025 – Mimpi mengubah nasib berujung nestapa. Juhaidarna alias Dahlia (47), Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kabupaten Kerinci, Jambi, kini terbaring lumpuh dan sekujur tubuhnya dipenuhi luka mengerikan setelah diduga mengalami penyiksaan tak manusiawi oleh majikannya di Malaysia. Ibu dua anak yang akrab disapa Ida ini hanya bisa menahan tangis di tempat tidurnya di Desa Siulak Koto Lebuh Tinggi, separuh tubuh kanannya lumpuh dan berat badannya merosot drastis dari 68 kg menjadi tak sampai 35 kg.
Kondisi Ida memilukan. Selain lumpuh, tubuhnya dipenuhi lebam dan luka bakar bekas setrika. Gigi depannya pun ompong. “Sekarang tubuhnya cuma antara tulang dan kulit,” ujar Cindi, adik sepupu Ida, saat dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (10/8/2025). Ida, seorang janda tulang punggung keluarga, kembali ke Malaysia pada 2023 dengan harapan merawat lansia yang pernah dirawatnya tahun 2017-2019. Kenyataan pahit menanti. Orang tua tersebut telah meninggal dan Ida dipindahkan ke majikan baru – sebuah keluarga kaya tersohor di Malaysia. Di sanalah, menurut pengaduan keluarga, Ida mengalami siksaan selama tiga tahun.
Penderitaan memuncak saat Ida koma dan dirawat di Hospital Pulau Penang, Malaysia. Majikan dan pengacaranya berusaha menutupi fakta, menyatakan Ida hanya sakit asam lambung dan menolak permintaan keluarga untuk bukti visual. Kecurigaan keluarga memuncak, memaksa mereka menggalang dana demi terbang ke Malaysia. “Pada 9 April 2025 Minggunya saya langsung ke rumah sakit,” kisah Cindi.
Sesampainya di rumah sakit, Cindi nyaris tak mengenali sepupunya yang terbaring koma, kurus kering, dan dipenuhi selang infus. Harapan hidup Ida tipis, hanya mengandalkan detak jantungnya yang masih kuat. Dalam keputusasaan, Cindi membisikkan niat membawa Ida pulang ke telinganya. “Saya bisikkan, ‘Kak, kita pulang ya, sehat ya, kita pulang ke Indonesia.’ Setelah itu, dia langsung meneteskan air mata,” kenang Cindi. Mukjizat pun terjadi. Ida yang koma tiba-tiba bersuara lemah, memohon pertolongan: “Ya Allah, ya Allah tolong, tolong, takut, takut.”
Upaya meminta pertanggungjawaban majikan berbelit. Pengacara menjanjikan biaya perawatan dan pemulangan, tetapi hanya memberikan surat berbahasa Inggris untuk ditandatangani. Saat diterjemahkan, surat itu ternyata berisi pernyataan bahwa keluarga berterima kasih dan bersedia menanggung semua biaya sendiri – sebuah siasat licin untuk cuci tangan. Beruntung, Cindi mendapat bantuan WNI asal Medan, Wani Hasibuan, yang menghubungkan mereka dengan KJRI. Akhirnya, pada Minggu, 1 Juni 2025, Ida dipulangkan ke Jambi tanpa biaya berkat fasilitasi KJRI.
Kembali ke tanah air, penderitaan Ida belum berakhir. Ia masih terbaring lemah, tak mampu duduk tanpa bantuan. Penyakitnya telah komplikasi dan memerlukan penanganan medis serius. Namun, keterbatasan dana membuatnya hanya dirawat seadanya di rumah. “Ya, hanya Tuhan yang bisa sembuhkan, karena mau berobat juga tidak ada biaya,” ujar Cindi pilu. Secercah harapan muncul beberapa hari lalu ketika Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Kerinci menjenguk Ida dan berjanji membantu biaya pengobatan.
Kisah Ida menyoroti lagi betapa rentannya nasib TKW Indonesia di luar negeri. Dari mimpi mengubah nasib, ia pulang sebagai korban penyiksaan yang lumpuh dan sakit parah, bergantung pada janji bantuan pemerintah. Perjuangan panjang keluarganya mengungkap kebenaran dan membawanya pulang hanya awal dari pemulihan yang masih penuh ketidakpastian.

Comment