SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement Advertisement
Lifestyle
Home / Lifestyle / Takut Berkomitmen? Ini Jurus Ampuhnya

Takut Berkomitmen? Ini Jurus Ampuhnya

Komitmen
Komitmen

HEADLINESIA.com, JAKARTA, 03 APRIL 2026 – Fenomena commitment issue kini menghantui banyak pasangan di Indonesia, Kamis (2/4/2026), akibat trauma masa lalu atau ketakutan kehilangan kebebasan. Terapis menyarankan enam langkah strategis, mulai dari mengenali akar masalah hingga bantuan profesional, guna membangun hubungan yang lebih stabil dan sehat.

Di tengah tren hubungan tanpa status dan fenomena ghosting, istilah commitment issue menjadi momok bagi mereka yang mendambakan stabilitas namun merasa terancam saat hubungan mulai serius. Ketakutan ini sering kali membuat seseorang merasa terjebak secara emosional.

Masalah komitmen tidak selalu berasal dari tidak ingin menjalin hubungan. Seseorang bisa peduli dan ingin bersama pasangannya, tetapi merasa lumpuh dengan gagasan tentang komitmen,” ujar Nari Jeter, terapis pasangan, melansir SELF.

Bedah Akar Masalah dan Ubah Perspektif

Langkah pertama yang krusial adalah memahami asal rasa takut tersebut. Apakah trauma disakiti di masa lalu kembali menghantui, atau memang ada ketidakcocokan spesifik dengan pasangan saat ini? Membedakan ketakutan umum dan ketakutan spesifik sangat penting untuk menentukan apakah masalahnya ada pada diri sendiri atau dinamika hubungan.

Selain itu, ubahlah cara pandang terhadap komitmen. Jangan melihatnya sebagai beban seumur hidup yang mengikat, melainkan sebagai proses harian. Terapis Erica Thrall menganalogikan hubungan seperti pekerjaan baru. Komitmen bukan soal ‘selamanya’, tapi tentang memilih untuk hadir dan berinvestasi dalam hubungan saat ini.

Kenapa Setelah Lebaran Sanyak yang Sakit?

Kejujuran Adalah Kunci Keamanan Emosional

Komunikasi terbuka sering kali menjadi obat bagi rasa cemas. Jangan menunggu krisis untuk bicara; sampaikan ketakutan Anda sejak awal hubungan. Kejujuran membangun kepercayaan dan membantu pasangan memberikan respons suportif yang meredakan kecemasan.

Sering kali, penderita commitment issue melakukan sabotase diri tanpa sadar, seperti mencari-cari kesalahan pasangan agar punya alasan untuk pergi. Pola pikir ingin pergi lebih dulu sebelum disakiti harus dihentikan untuk membangun hubungan yang lebih konstruktif.

Hentikan Sabotase dan Fokus di Masa Sekarang

Hentikan kebiasaan overthinking tentang skenario “bagaimana jika” di masa depan. Fokuslah pada kehadiran penuh di masa kini tanpa harus membanding-bandingkan dengan kemungkinan lain yang belum pasti. Belajar menikmati proses dan menerima ketidakpastian akan membuat seseorang lebih terbuka terhadap kedekatan emosional.

Terakhir, jangan ragu mencari bantuan profesional jika pola ketakutan ini terus berulang. Terapi membantu menggali gaya keterikatan (attachment style) dan memberikan perspektif objektif untuk memutus siklus hubungan yang tidak sehat.

Nastar Ratu Kue Lebaran bukan Asli Indonesia

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement