SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement Advertisement
Kabar Daerah
Home / Kabar Daerah / Potret Guru Ngaji di Indonesia, Negara Belum Sepenuhnya Hadir

Potret Guru Ngaji di Indonesia, Negara Belum Sepenuhnya Hadir

Foto: Anggota Satgas TMMD ke 99 mengajari anak-amak mengaji, SpiritNews.
Foto: Anggota Satgas TMMD ke 99 mengajari anak-amak mengaji, SpiritNews.

HEADLINESIA.com, SALATIGA, 24 FEBRUARI 2026 – Mutaalimun, pengajar di Ponpes Sunan Giri Salatiga, konsisten mengabdi mengajar Al-Quran sejak 2018 demi meneruskan perjuangan kiai, meski ia mengakui bahwa insentif bulanan dari pemerintah sebesar Rp100.000 belum cukup memenuhi kebutuhan pokok di tengah kenaikan harga pangan, Senin (23/2/2026).


Mutaalimun adalah potret nyata dedikasi di sektor pendidikan nonformal. Setiap usai Maghrib dan pagi hari, ia setia menempa santri dengan kitab kuning. Namun, ia menyadari realitas ekonomi bahwa mengajar ngaji tidak bisa menjadi tumpuan utama dapur rumah tangga.

Saya meneruskan peran pendahulu, namun ke depannya saat nanti saya sudah berumah tangga memang diperlukan penghasilan tambahan,” ujar Mutaalimun lugas. Saat ini, ia menerima insentif Rp100.000 per bulan yang dicairkan tiap kuartal. Setelah dipotong BPJS, ia hanya menerima sekitar Rp300 ribu per empat bulan.

Urgensi Regulasi dan Penghargaan Negara

Kondisi ini memicu keprihatinan dari tokoh agama setempat. Pengasuh Ponpes Al-Insaniyyah, Kiai Khoirul Anwar, menegaskan bahwa pemerintah wajib hadir bagi para pejuang karakter bangsa ini. Menurutnya, selama ini guru ngaji bergerak di “jalan sunyi” tanpa payung hukum yang jelas.

Harusnya pemerintah memperhatikan dan berterima kasih hadirnya lapisan masyarakat yang mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan masyarakat,” tegas Kiai Khoirul. Ia menilai ada kekosongan regulasi yang membuat aktivitas pendidikan agama nonformal sering dianggap “gratisan” oleh publik maupun negara.

Nadiem: “Tuduhan Saya Menerima Keuntungan 809 miliar itu Bohong”

Kiai Khoirul juga mengingatkan pentingnya kemandirian umat agar guru agama tidak sekadar menjadi kendaraan politik. Ia mendorong masyarakat untuk berani menagih hak pendidikan agama kepada negara. “Sangat disayangkan jika negara tidak memperhatikan guru-guru ngaji,” pungkasnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement