HEADLINESIA.com, JAKARTA, 17 FEBRUARI 2026 – Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, memperingatkan penderita diabetes di Indonesia agar mewaspadai ancaman hiperglikemia saat Ramadhan akibat pola makan tak terkontrol dan perubahan dosis obat tanpa pengawasan medis yang dapat memperburuk kondisi kesehatan secara drastis.
Banyak penderita diabetes (diabetisi) mengira bahwa berpuasa otomatis menurunkan kadar gula darah. Namun, realitanya justru sebaliknya. Fenomena “balas dendam” saat berbuka puasa dengan mengonsumsi takjil tinggi gula dan karbohidrat berlebih menjadi pemicu utama lonjakan gula darah yang mematikan.
“Di luar bulan Ramadhan pun, pasien diabetes tetap berisiko mengalami hiperglikemia. Saat puasa, risiko itu tetap ada kalau gula darah tidak terkontrol,” tegas dr. Andi dalam wawancara pada Selasa (10/2/2026).
Jebakan Takjil dan Dosis Obat yang “Ngawur”
Investigasi medis menunjukkan bahwa gejala hiperglikemia seperti sering haus (polidipsia), sering buang air kecil (poliuri), dan cepat lelah sering kali diabaikan karena dianggap sebagai efek samping puasa biasa. Padahal, jika gula darah sudah menyentuh angka di atas 250 mg/dL, pasien sangat disarankan untuk segera membatalkan puasa demi menghindari komplikasi fatal.
Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan pasien yang mengubah atau mengurangi dosis obat seperti metformin atau insulin tanpa konsultasi dokter. Dr. Andi mengingatkan bahwa keselamatan pasien tetap nomor satu; jangan memaksakan diri jika kondisi tidak stabil. Pengaturan porsi karbohidrat, sayur, dan buah saat sahur serta berbuka adalah kunci utama agar ibadah tetap aman tanpa mengorbankan nyawa.

Comment