SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lifestyle
Home / Lifestyle / 5 Kuliner Tertua di Indonesia, Warisan Rasa Sejak Zaman Kerajaan

5 Kuliner Tertua di Indonesia, Warisan Rasa Sejak Zaman Kerajaan

Dalam setiap suap hidangan Nusantara, tersimpan cerita yang merentang panjang melewati zaman. Bukan sekadar soal cita rasa yang memikat, tetapi juga jejak peradaban yang terekam dalam prasasti dan naskah kuno. Beberapa kuliner legendaris ini telah hadir membangkitkan selera sejak lebih dari seribu tahun silam, menjadi saksi bisu kejayaan kerajaan-kerajaan masa lalu. Dari panganan bangsawan hingga hidangan rakyat, mereka bertahan menghadapi deru modernitas, membuktikan bahwa warisan kuliner Indonesia adalah harta karun yang tak ternilai. Inilah daftar kuliner tertua yang masih setia menemani nafsu makan kita hingga hari ini.


HEADLINESIA.com, JAKARTA, 21 SEPTEMBER 2025 – Setiap daerah di Indonesia memiliki mosaic kuliner tradisional yang menjadi jati diri masing-masing. Hidangan-hidangan ini bukan hanya soal kelezatan di lidah, tetapi juga menyimpan nilai filosofi, kearifan lokal, dan sejarah panjang yang bahkan telah ada sejak lebih dari seribu tahun lalu. Keberadaan mereka tercatat dalam berbagai prasasti dan karya sastra kuno, menjadi bukti autentik betapa kayanya warisan kuliner Nusantara.

Berikut adalah beberapa kuliner tertua yang masih dapat kita nikmati hingga sekarang:

1. Urap: Simfoni Sayuran dari Abad ke-10

Urap merupakan salah satu hidangan tertua yang eksistensinya tercatat jelas dalam Prasasti Linggasutan pada tahun 929 Masehi, pada masa Kerajaan Medang berkuasa. Hidangan ini adalah simfoni sempurna antara sayuran rebus (seperti kangkung, bayam, dan daun singkong) dengan parutan kelapa yang dirajam bumbu halus dari bawang, kencur, terasi, dan cabai. Kehadirannya menunjukkan sophistication dalam mengolah bahan alam menjadi makanan yang sehat dan penuh cita rasa.

Aceh Dilanda Bencana, 13 Ribu Jiwa Mengungsi

2. Dendeng: Teknik Pengawetan Daging yang Telah Berusia Milenium

Jangan kira teknik pengawetan daging adalah hal modern. Makanan khas Minang ini telah disebut dalam Prasasti Taji pada tahun 901 Masehi, membuktikan bahwa nenek moyang kita telah menguasai metode pengolahan daging yang canggih untuk masa itu. Dendeng terbuat dari irisan tipis daging sapi yang dikeringkan dan dibumbui, menghasilkan tekstur renyah dan daya simpan yang lama. Jejaknya yang panjang menunjukkan adaptasi brilliant terhadap iklim tropis.

3. Lalapan: Kesegaran yang Menyatu dengan Budaya Makan

Keberadaan lalapan tercatat dalam Prasasti Jeru-jeru tahun 930 Masehi, menjadikannya tradisi kuliner yang menyatu dengan budaya makan masyarakat sejak era Kerajaan Medang. Hidangan pendamping yang terdiri dari sayuran segar seperti kemangi, timun, dan tomat ini bukan sekadar pelengkap, tetapi elemen penting yang menyeimbangkan rasa dan gizi. Hingga kini, lalapan tetap menjadi ritual wajib yang disajikan bersama nasi, sambal, dan kerupuk.

4. Pecel: Sambal Kacang yang Melegenda Sejak Abad ke-9

Banjir Sumbar: 22 Korban Jiwa 10 Hilang

Pecel sudah dikenal sejak abad ke-9 dan catatannya ditemukan dalam Kakawin Ramayana. Hidangan sayuran rebus yang disiram sambal kacang ini memiliki popularitas yang meluas, melahirkan berbagai varian seperti pecel Madiun dan pecel Ponorogo. Kekuatan utamanya terletak pada sambal kacangnya yang creamy dan gurih, mampu menyatukan aneka sayuran dalam satu harmoni rasa yang mendunia.

5. Papeda: Primadona Papua yang Bertekstur Unik

Papeda adalah ikon kuliner Papua, khususnya dari Suku Dani, yang telah berusia ratusan tahun. Terbuat dari tepung sagu murni yang diseduh air mendidih, papeda memiliki tekstur lengket dan kenyal yang unik, disajikan bersama kuah ikan kuning yang gurih. Cara menyantapnya yang khas, dengan memutar adonan menggunakan garpu atau sumpit, menambah kekayaan pengalaman kuliner Nusantara yang tak ternilai.

Warisan Rasa yang Tak Lekang Waktu

Dari urap hingga papeda, kuliner-kuliner ini adalah living proof bahwa kekayaan Indonesia tidak hanya pada alamnya, tetapi juga pada budayanya yang telah berusia ribuan tahun. Mereka bukan sekadar makanan, melainkan penjaga memori kolektif bangsa yang terus diwariskan lintas generasi. Melestarikan dan mengenal sejarahnya adalah bentuk penghormatan kita pada warisan rasa yang tak lekang oleh waktu.

Korban Tewas Bencana Sumut 34 Jiwa, 33 Dinyatakan Hilang

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trend Headlinesia

01

KPK OTT Dinas PUPR Riau, Gubernur Abdul Wahid Dimintai Keterangan, Bukan Ditangkap!

02

Tenaga Ahli Gubernur Riau Beberkan Kejanggalan OTT KPK

03

OTT KPK di PUPR Riau: 14 Pengacara Siap Bergabung, TPF Fokus Mengumpulkan Data Kejadian

04

Gubernur Riau Abdul Wahid Justru Jadi Saksi Kunci Lapor Suap Rp250 Juta

05

OTT di Dinas PUPR-PKPP Riau, Alumni UIN Suska Bentuk TPF

06

Ancaman Serius PT PP Terhadap Dunia Pendidikan, Mahasiswa Unri Praktikum Menggunakan Drone di curigai dan di larang oleh Pihak PT PP

07

Mengurai Kewenangan Plh Gubernur Riau di Tengah Kontroversi Mutasi Jabatan

08

Keadilan di Tengah Badai Kekuasaan Menguji Integritas KPK di Bumi Lancang Kuning

New Headline










×
×