Gelombang boikot besar-besaran dilancarkan musisi global terhadap Spotify. Pemicunya? Investasi fantastis CEO Daniel Ek senilai Rp11,4 triliun ke Helsing—perusahaan AI militer yang teknologi perangnya disebut memicu eskalasi kekerasan di Gaza. Aksi ini mempertanyakan etika platform yang mengalirkan royalti seniman ke industri senjata, sambil membuka luka lama soal imbalan yang timpang bagi kreator.
HEADLINESIA.com, JAKARTA, 5 AGUSTUS 2025 – Spotify, raksasa streaming musik dunia, kini berhadapan dengan badai protes dari musisi internasional. Boikot massal ini dipicu keputusan kontroversial sang CEO, Daniel Ek, yang menanamkan modal US$700 juta (Rp11,4 triliun) ke Helsing—perusahaan teknologi kecerdasan buatan (AI) pertahanan asal Eropa. Teknologi Helsing, yang diklaim “melindungi demokrasi”, justru digunakan dalam operasi militer mematikan, termasuk agresi Israel di Gaza yang menewaskan ribuan warga sipil.
Greg Saunier, pendiri band Deerhoof, menjadi yang paling vokal mengecam langkah Ek. Ia menarik seluruh karyanya dari Spotify sembari berteriak lantang: “Setiap kali lagu kami diputar di Spotify, apakah itu berarti satu dolar lagi disedot untuk membiayai pembantaian di Gaza?” ujarnya kepada The Los Angeles Times. Sikap serupa diikuti sejumlah nama besar seperti Xiu Xiu, label elektronik Kalahari Oyster Cult (Amsterdam), dan band rock Australia King Gizzard & the Lizard Wizard.
Stu Mackenzie, vokalis King Gizzard, menegaskan keputusan ini sebagai bentuk konsistensi moral: “Ini bukan sekadar aktivisme, tapi kesetiaan pada diri sendiri. Kami tak ingin musik kami jadi bagian dari sistem ini.”
AI Militer di Balik Konflik Gaza
Didirikan pada 2021, Helsing mengembangkan perangkat lunak AI canggih untuk menganalisis data sensor medan perang dan sistem persenjataan secara real-time. Teknologi ini disebut meningkatkan akurasi serangan militer. Tak hanya software, Helsing juga memproduksi drone tempur HX-2. Ironisnya, di tengah konflik Gaza yang kian memanas, investasi Spotify justru mengalir deras ke perusahaan yang disebut “memperburuk eskalasi kekerasan” ini.
Royalti Minim vs Investasi Senjata Miliaran
Boikot ini bukan hanya soal etika perang, tapi juga tamparan keras bagi kebijakan royalti Spotify yang kerap dikeluhkan musisi. Para seniman geram melihat keuntungan dari karya mereka—yang dibayar minim—justru dialihkan ke industri senjata melalui Prima Materia, firma ventura milik Ek. “Ini pengkhianatan terhadap semangat musik sebagai alat perdamaian,” ujar salah satu musisi yang memilih anonim.
Daniel Ek, yang juga menjabat Ketua Dewan Helsing, belum memberi respons terbuka. Namun, keputusannya menguburkan uang seniman di bisnis senjata telah menyulut krisis kepercayaan. Gelombang boikot ini bukan hanya aksi simbolis, tapi gugatan nyata atas relasi gelap antara hiburan, teknologi, dan mesin perang.
Comment