HEADLINESIA.com, PEKANBARU, 26 JANUARI 2026 – Pekanbaru diguncang kontroversi setelah Pelaksana Tugas Gubernur Riau, SF Hariyanto, mengusulkan pemindahan atau penggantian Tugu Zapin dengan alasan kesesuaian nilai agama. Pernyataan yang mengejutkan itu justru berbalik arah dengan komitmen perbaikan senilai Rp 200 juta yang telah dianggarkan pada 2024, saat tugu yang dibangun di era kepemimpinannya di Dinas PUPR itu rusak parah akibat aksi pencurian. Usulan ini pun memantik pertanyaan publik tentang konsistensi kebijakan dan mengabaikan fakta bahwa tugu senilai Rp 4 miliar karya maestro I Nyoman Nuarta itu bukan sekadar penghias jalan, melainkan juga penanda Titik Nol Kota Pekanbaru yang sarat makna sejarah dan filosofi Melayu.
Dari Anggaran Perbaikan ke Wacana Pemindahan: Sebuah Kontradiksi Kebijakan?
Pernyataan Plt. Gubernur Riau, SF Hariyanto, pada Kamis (22/1/2026) seperti mendadak mendinginkan semangat perbaikan Tugu Zapin. “Tugu Zapin itu banyak masukan dari masyarakat dan dari tokoh-tokoh, kalau dilihat dari agama Islam patung orang itu kurang pas dan kurang tepat, kenapa tidak dipindahkan atau diganti gambar yang lain,” katanya. Wacana ini mengejutkan, mengingat pada awal 2024, Pemerintah Provinsi Riau justru getol membicarakan renovasi.
Padahal, pada Maret 2024, SF Hariyanto sendiri mengakui kerusakan tugu dan meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) segera memperbaikinya. “Saya pun melihat kemarin ada beberapa bidang yang sudah di potong-potong. Kami minta kepada PUPR untuk segera berkoordinasi dengan pekerja untuk memperbaiki kembali,” ujarnya saat itu. Komitmen perbaikan itu bahkan telah dikonkretkan dengan anggaran senilai Rp 200 juta pada Tahun Anggaran 2024 melalui Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Riau.
Kerusakan yang hendak diperbaiki tersebut terutama akibat pencurian material tembaga pembentuk patung. Kepala Dinas PUPR Provinsi Riau, Arief Setiawan, membenarkan tembaga itu hilang dicuri dan terpantau CCTV. Thomas Larfo Dimiera, saat masih menjabat Kepala Bidang Cipta Karya, menegaskan, “Kalau dilihat bahan yang dicuri sekitar Rp 2 juta, tetapi kita tahu seni ini tak bisa kita hitung cuma dari bahan baku saja. Mahal itu harganya.” Perbedaan sikap antara komitmen memperbaiki karya seni yang “mahal harganya” dan wacana memindahkannya inilah yang memantik tanda tanya besar di publik.
Lebih Dari Sekadar Patung: Jejak Sejarah, Karya Maestro, dan Titik Nol Peradaban Melayu
Mengurai kontroversi ini tak lengkap tanpa menengok sejarah dan makna mendalam yang dibawa Tugu Zapin. Tugu yang dibangun jelang PON XVIII tahun 2012 ini menggantikan tugu pesawat tempur lama. Dibangun dengan anggaran fantastis sebesar Rp 4 miliar dari APBD Riau 2011, tugu ini adalah mahakarya seniman legendaris Indonesia, I Nyoman Nuarta, perupa pencipta Garuda Wisnu Kencana dan Monumen Jalesveva Jayamahe.
Namun, nilai terpentingnya justru terletak pada statusnya sebagai penanda Titik Nol Kota Pekanbaru. Berdasarkan kajian akademis dari Universitas Riau, titik nol kota yang awalnya berada di kawasan bersejarah Kampung Bandar Senapelan, dipindahkan dan ditetapkan di lokasi Tugu Zapin di era Gubernur Rusli Zainal. Penetapan ini penuh simbol: Tugu Zapin yang menggambarkan gerakan tari Melayu menjadi penanda bahwa Pekanbaru adalah “Bumi Melayu” yang beradat dan berislam, sekaligus kota metropolitan yang terus berkembang.
Penelitian yang sama merekomendasikan agar pemerintah lebih memperhatikan tempat bersejarah, termasuk titik nol, sebagai sumber informasi bagi generasi mendatang. Ironisnya, alih-alih merawat dan mengamankan, wacana yang justru mengemuka adalah pemindahan. Padahal, selain merusak kesinambungan sejarah, langkah ini juga berpotensi mengaburkan penanda geografis dan filosofis penting kota.
Pemerintah Kota Pekanbaru disebutkan menyetujui peninjauan pemindahan ini. Jika wacana ini terus mengalir tanpa pertimbangan mendalam, bukan hanya uang ratusan juta untuk perbaikan yang akan sia-sia, melainkan juga satu bagian dari jiwa dan ingatan kolektif masyarakat Pekanbaru yang bisa terputus. Kontroversi Tugu Zapin kini tidak lagi sekadar soal patung tembaga yang rusak, tetapi telah menjadi ujian bagi komitmen pemerintah dalam menjaga warisan budaya, sejarah, dan identitas Kota Pekanbaru sebagai pusat peradaban Melayu.
Kritik pedas pernah disampaikan anggota DPRD Riau, Manahara Napitupulu. Ia mengaku prihatin melihat kondisi tugu yang dinilainya tidak terawat dan mengalami sejumlah kerusakan.
“Saya sering lewat dan melihat Tugu Zapin sebagai ikon Riau. Sakit mata melihatnya tak terurus. Jaring-jaring pada sarung penari sudah rapuh, rangka bagian bawah juga terlihat rusak,” kata Manahara, Selasa (16/12/2025) lalu.

Comment