SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement Advertisement
Kabar Daerah
Home / Kabar Daerah / Aceh dan Krisis Pangan 3 Tahun, Dampak Katastropik Banjir dan Longsor Sumatera

Aceh dan Krisis Pangan 3 Tahun, Dampak Katastropik Banjir dan Longsor Sumatera

Masyarakat Aceh korban bencana banjir dan longsor. [Foto: dok warga]
Masyarakat Aceh korban bencana banjir dan longsor. [Foto: dok warga]

Masyarakat Aceh diprediksi akan menghadapi ancaman kekurangan pangan hingga tiga tahun ke depan pascabanjir dan longsor katastropik yang melanda Pulau Sumatera. Akademisi menyoroti hancurnya infrastruktur pertanian dan kerusakan ekologis parah akibat alih fungsi lahan serta pembalakan liar sebagai biang keladi. Kondisi ini disebut mirip dengan bayang-bayang kelaparan yang pernah menghantui Aceh di masa lampau, dan dikhawatirkan diperparah oleh lemahnya mitigasi bencana.


HEADLINESIA.com, BANDA ACEH, 25 DESEMBER 2025 – Ratusan jiwa melayang dan kehancuran infrastruktur bukan satu-satunya duka yang ditinggalkan bencana banjir dan longsor 25-27 November 2025 lalu di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Ancaman yang lebih sistemis justru mengintai: krisis pangan jangka panjang.

Cut Azizah, akademisi Universitas Almuslim, dalam sebuah webinar pada Rabu (24/12/2025), memberikan peringatan keras. “Mungkin di Aceh dan Sumatera khususnya Aceh yang banyak terdampak akan mengalami kekurangan pangan tiga tahun ke depan, karena kita tidak punya sawah lagi,” ungkapnya. Menurutnya, sawah yang tergenang lumpur serta rusaknya bendungan, irigasi, dan infrastruktur pendukung lainnya merupakan pukulan telak bagi ketahanan pangan lokal.

Cut mendeskripsikan banjir ini sebagai bencana katastropik atau sangat merusak dengan dampak jangka panjang terhadap sosial-ekonomi. Faktor pemicunya kompleks. Selain hujan ekstrem 5-7 hari, topografi Bukit Barisan dengan tanah muda yang labil dan alih fungsi lahan masif di daerah aliran sungai (DAS) memperparah keadaan.

“Di DAS Peusangan, misalnya, 70 persen areanya telah berubah dari hutan menjadi permukiman, pertanian, hingga kebun sawit. Jadi manusia itu terus mengganggu hulu,” tegas Cut. Ia menambahkan, banyak wilayah rawa di pesisir yang beralih fungsi menjadi permukiman, mengurangi kemampuan alam menahan air.

Skandal Korupsi Chromebook: Eks Direktur Ungkap Penerimaan 7.000 Dolar, Kerugian Negara Capai Rp 2,1 Triliun

Pembalakan Liar, Jejak Nyata di Tengah Bencana

Sorotan tajam juga datang dari Guru Besar IPB University, Bambang Hero Saharjo. Ia menyebut ada kegiatan manusia, baik disengaja maupun akibat kelalaian, di balik bencana hidrometeorologi ini. Buktinya, ditemukan gelondongan kayu berbagai ukuran, bahkan yang sudah diberi nomor, terseret banjir di enam lokasi di Sumatera Utara.

“Dapat dipastikan di balik bencana banjir dan longsor… terdapat kegiatan manusia yang berada di baliknya,” ucap Bambang. Ia mempertanyakan mengapa kawasan hutan tampak terbuka dan ditemukan jejak tebangan di lereng curam, yang mengindikasikan pembalakan liar turut berkontribusi pada tragedi ini.

Bayang-bayang Kelaparan Masa Lalu

Situasi ini mengingatkan pada catatan kelam sejarah Aceh. Laporan penjelajah Eropa tahun 1602 menyebutkan kelangkaan beras dan harga yang melambung tinggi, hingga menimbulkan bayang-bayang ketakutan dan kelaparan. Krisis kala itu dipicu kombinasi kondisi alam berbentuk rawa, permainan harga oleh orang kaya, dan kepemimpinan yang lemah.

PETI Kuansing Luluhlantakkan Kebun Karet Pemda, Ancaman Kerugian Negara Miliaran Rupiah

Pelajaran dari konflik bersenjata masa lalu juga menunjukkan betapa perang dan pengungsian massal menggerus ketahanan pangan. Saat konflik, lahan pertanian terlantar, petani mengungsi, dan akses ke ladang terputus. Rusaknya hutan akibat penebangan liar yang sering dikaitkan dengan kepentingan militer dan ekonomi, juga disebut-sebut memperburuk kerentanan terhadap banjir dan longsor.

Menyiapkan Mitigasi untuk Masa Depan

Cut Azizah mengingatkan bahwa banjir di Aceh memiliki pola yang bisa diprediksi, yaitu hujan lebat berturut-turut selama lima hari antara September-Desember. “Mestinya ini menjadi peringatan, adaptasi, kesadaran dari masyarakat,” imbaunya. Peringatan dini ini diharapkan dapat meminimalisir korban jiwa.

Gabungan faktor alam ekstrem, kerusakan lingkungan struktural, dan lemahnya tata kelola lahan kini mengancam mewujudkan prediksi suram krisis pangan. Tanpa langkah rehabilitasi dan penegakan hukum lingkungan yang serius, ancaman tiga tahun kekurangan pangan di Aceh bisa menjadi kenyataan yang memilukan.

Sidak ASN di Depan Kamera, Tumpukan Dollar di Balik Pintu Rumah Dinas PLT Gubernur

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trend Headlinesia

01

Sidak ASN di Depan Kamera, Tumpukan Dollar di Balik Pintu Rumah Dinas PLT Gubernur

02

OTT KPK RI terhadap Abdul Wahid, Melanggar KUHAP

03

Jelajahi Kuliner Ayam Khas Indonesia, Cita Rasa Otentik dari Sabang hingga Merauke

04

Produksi Cabai Rawit Indonesia Capai 1,56 Juta Ton di 2024, Jawa Timur Terbesar!

05

MA Kukuhkan Pembatalan Merek Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia

06

Kaesang: Hubungan Kami dengan Keluarganya Bapak SBY Sangat Baik

07

Api Menyembur Tinggi di Pipa Gas Milik PT. TGI

08

Kayu Gelondongan Diduga Picu Banjir & Longsor Sumatera: “Segera tetapkan tersangka,”

New Headline










× Advertisement
× Advertisement